Web Counters
Muhajirin Anshor

Mari mulai pagi ini dengan bersyukur kepada Tuhan kita dengan lisan kita dan seluruh perasaan kita.

Ada orang merasa miskin ketika tabungannya dibawah 1 Milyar, tapi ada orang yang merasa kaya hanya karena tabungannya melewati angka 10 juta.

Ada orang yang masih merasa susah, padahal gajinya di atas 20 juta, tapi ada yang merasa bahagia hanya karena gajinya naik 45 ribu saja.

Ada orang yang merasa bajunya itu-itu saja, padahal koleksi baju di lemarinya lebih dari 70, sementara ada yg merasa ingin berbagi baju dengan yang lain, padahal koleksinya hanya 8 baju.

Ada orang yang tidak berbagi karena merasa semua kekayaannya adalah jerih payahnya, sementara ada tukang becak yang mem-free-kan ongkos setiap Jum’at.

Ada orang yang tidak pernah merasa cukup dengan satu rumah tinggal dan satu lagi rumah untuk istirahat akhir pekan, sementara ada yang bahagia dan merasa nyaman saat mampu membayar kontrakannya bulan itu.

Ada orang resah ketika nilai harga saham yang dia pegang turun 1%, sementara ada yang bahagia ketika yang didapat hari ini cukup untuk dagang besok.

Ada orang bermobil seharga ratusan juta berqurban kambing seharga 2 juta, ada orang berhonda Supra X berqurban kambing 3,6 juta..

Sebenarnya tidak harus selalu dipertentangkan, karena ada pula orang mampu yang pandai bersyukur dan orang miskin yang kufur nikmat.

#Syukur adalah pekerjaan hati, dilanjutan lisan dan amalan pembuktian. Semua orang bisa bersyukur, bisa pula kufur nikmat, tapi alangkah indahnya jika si kaya pandai bersyukur dan si miskin juga pandai bersyukur dengan caranya masing-masing.

Semua agama pasti mengajarkan semua pemeluknya untuk selalu bersyukur kepada Tuhan dan semua agama membenci kekikiran, saya yakin itu.

Kata Gandi, dunia ini cukup untuk semua orang, tapi tak cukup untuk satu orang rakus. Itu semua tentang syukur dan berbagi.

Dalam Islam diajarkan do’a,” Allohumma a-inna ‘ala dzikrika, wa syukrika wa husni ‘ibadatika”, dibaca setiap selesai sholat, 5 kali sehari seharusnya. Artinya, “Ya Allah bantulah aku dalam mengingat-Mu, bantulah untuk mampu bersyukur atas semua nikmat-Mu, dan bantu dalam memperbaiki ibadah kami kepada-Mu”

Selamat menjadi hamba yang pandai bersyukur, berbahagialah saat mampu membahagiakan orang lain.

-Pak Banu Muhammad-

Sedikit menyinggung sejarah psikologi. Pada awalnya, psikologi adalah ilmu tentang jiwa karena psyche berarti “jiwa”, namun sayangnya definisi tersebut berubah seiring waktu. Perubahan tersebut dikarenakan adanya sekularisasi ilmu pengetahuan. Paham sekuler memiliki ciri mengabaikan aspek metafisik atau ghoib, sehingga salah satu konsekuensinya adalah hanya membahas hal-hal yang dapat diindera dan diukur.

Orang yang sekuler pun mengingkari Tuhan, tidak melibatkannya dalam kehidupan sehari-hari. Padahal fitrahnya manusia itu merindukan Tuhan. Itulah sebabnya budaya sekuler membuat penganutnya asing dengan dirinya sendiri. Alhasil psikologi tidak membuat hati tenteram, tapi justru menambah kegelisahan.

Asumsi sekuler menyebabkan adanya reduksi pada ilmu psikologi Hal itu juga berdampak pada definisi psikologi, yaitu yang pada awalnya ilmu tentang jiwa berubah menjadi behavioral science atau ilmu tentang tingkah laku. Seiring dengan perubahan era definisi psikologi juga mengalami perubahan. Ketika teknologi berkembang, psikologi memasukkan mental process dalam ranah pembahasannya.

Psikologi sekuler bagaikan ilmu yang meraba-raba dalam kegelapan. Penggambarannya seperti dalam Al-qur’an surat Al-Baqarah ayat 17: perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya yang menyinari mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.

Hanya iman yang bisa menerangi kegelapan

Psikologi Islam adalah ilmu tentang manusia seutuhnya karena di dalamnya ada aspek jiwa yang dibahas, di samping tingkah laku dan proses mental. Sebaliknya, psikologi sekuler bersifat parsial karena mengabaikan aspek jiwa, padahal jiwa adalah aspek penting dalam Islam.

Ibarat LEGO, psikologi Barat adalah partsnya. Psikologi Islam adalah konstruksi yang utuh. Tidak semua parts diperlukan.

Ibarat pasir emas, maka psikologi Islam adalah emasnya.                    

Materi diskusi hari ini membahas tentang Psikologi dari perspektif Barat dan Islam. Persamaan dari keduanya adalah psikologi Barat dan Islam merupakan ilmu, ikhtiar, hasil pengalaman manusia.

Berikut perbedaan keduanya. Pembahasan dimulai dari Psikologi Barat.

Asumsi dasar Psikologi Barat adalah tidak mengakui adanya Tuhan. Ciri-cirinya adalah tidak membahas hati manusia, akibatnya tidak menciptakan ketentraman batin, tapi justru menimbulkan kegelisahan atau pemuasan hawa nafsu. Ada anggapan bahwa orang puas akan bahagia, namun kenyataannya justru tettap gelisah.

Terdapat pula asumsi-asumsi lain berdasarkan aliran dalam Psikologi Barat: Behaviorisme, Psikoanalisa, Humanistik.

Behaviorisme. Asumsi pada Behaviorisme adalah manusia sebagai hasil evolusi dari binatang, sehingga dalam manusia disebut dengan Human Animal. Behaviorisme berdasarkan penelitian. Banyak penelitian yang dilakukan pada hewan untuk memahami sifat manusia. Menjadi wajar jika teori-teori klasik psikologi cenderung menyamakan sifat manusia seperti sifat binatang. Contoh karya yang dapat menjadi referensi mengenai  Behaviorisme adalah buku berjudul Animal Intelligence karya Thorndike.

Psikoanalisa. Aliran ini bukan berdasarkan penelitian, namun spekulasi belaka, seperti konsep Oedipus Complex, psychosexual development.

Humanistik. Berusaha mengangkat psikologi sedikit lebih tinggi karena menyadari bahwa ada yang lebih mulia daripada binatang dalam diri manusia. Maslow menyebutnya aktualisasi diri yang akhirnya berhenti pada diri sendiri.

Psikologi positif memunculkan happiness dan gratitude yang terbatas pada terima kasih pada sesama.

Psikologi Transpersonal memunculkan spiritualitas, namun tetap tidak mengakui adanya Tuhan. Spiritualitas yang salah, mencakup hal-hal klenik dan animism juga. Adanya konsep God Spot menunjukkan mengingkaran terhadap Allah karena merasa menemukan Tuhan sebagai bagian dari otak yang seolah otonom.  Spritualitas dianggap debagai delusi kultural yang harus diterima sebagai kenyataan kemanusiaan (produk manusia). Konsekuensinya, salah satu terapi yang dikembangkan adalah perdukunan. Tidak bisa membedakan antara kyai dan dukun, do’a dan mantra. Ada anggapan bahwa Tuhan tidak ada tapi menerima bahwa manusia ada yang percaya. Religiusitas lebih pada ritual dan pemahaman ajaran-ajaran agama, dan agama dianggap sebagai kelompok sosial.

Pembahasan kemudian dialihkan pada Psikologi Islam.

Asumsi dasar Psikologi Islam adalah Tauhid dan wahyu sebagai salah satu sumber ilmu yang harus diimani (Al-qur’an dan hadits), sehingga perlu dipahami. Cara agar kita tercerahkan oleh Al-qur’an adalah dengan ilmu. Ilmu menduduki posisi penting dalam Islam. Orang yang berilmu akan diangkat beberapa derajat oleh Allah, bahkan hukum menuntut ilmu wajib bagi muslim. Fungsi ilmu selain itu adalah sebagai bekal untuk menjalankan amanah bagi manusia sebagai khalifah di bumi, selain sebagai hamba Allah yang diciptakan untuk beribadah pada-Nya. Orang yang tidak mau menuntut ilmu berarti khianat terhadap amanah tersebut.

Esensi dari amanah manusia sebagai khalifah: menjadi saksi (syuhada), menyampaikan kabar gembira, memberikan peringatan.  Untuk melakukan tugas itu, manusia diberikan bekal oleh Allah:pendengaran, penglihatan, hati, dan akal. Akal digunakan untuk membedakan yang haq dan bathil, namun fungsi ini tidak terlalu berjalan (akal menjadi tumpul) ketika ada penyakit hati.

Ilmuwan Barat itu rumit. Coba bandingkan dengan membaca cognitive psychology dan Alchemy of Happiness. Kemudian kita bisa tahu apa yang dimaksud dengan akal yang tumpul.

Struktur hati manusia:

Hati adalah sumber kebenaran, berfungsi untuk mengendalikan pendengaran, dan penglihatan. Ketika ada informasi dari luar masuk, informasi itu diolah oleh akal untuk disimpulkan. Jika hati bersih, informasi yang ditangkap akan jelas, sehingga akal tajam. Sebaliknya jika hati kotor, informasi yang ditangkap jadi kabur, sehingga akal jadi tumpul. Oleh karena itu, yang harus dijaga adalah kebersihan hati agar terbebas dari penyakit hati. Pemahaman akan jiwa membuat manusia paham akan siapa dirinya, apa itu cinta, kebahagiaan, dan kehidupan.

Teori Psikologi Islam yang sudah ada: teori motivasi, parenting, dan organisasi

Jiwa merupakan fondasi dalam psikologi Islam, sedangkan aplikasinya akan masuk ke berbagai konteks kehidupan: parenting, pernikahan, pekerjaan.

Kemudian melihat Psikologi Barat lagi. Psikologi Barat hanya berfokus pada aspek jasmani, yang dalam Islam itu hanyalah pakaian atau kendaraan. Permasalahan Psikologi Barat adalah teori. Dalam hal metode yang dijadikan alat, tidak banyak masalah. 

banumuhammad:

Diskusi MA 19: Psikologi Islam(i) 4 April 2014
“Syukur”

Minggu lalu kita bahas tentang hakekat manusia: antara tanah dan ruh. Sekarang kita dalami kedua hal tersebut.
Tanah merindukan dunia, tapi ruh merindukan Allah. Tanah adalah jasmani, sedangkan ruh bersemayan dalam hati. Jasad mudah dikenali, sedangkan hati nurani tersembunyi dan membutuhkan usaha untuk mengenalinya. Jasmani mengejar pemuasan, sedang hati nurani merindukan ketenangan, meskipun manusia tidak mengakuinya.
Mengejar Kepuasan
Psikologi Barat menekankan aspek jasmani (fisik) dan mental, tapi tidak untuk jiwa (ruhiyah). Itu sebabnya kepuasan penting sekali. Sifatnya hedonistik, padahal kepuasan sifatnya sementara, fana, dan tidak ada ujungnya. Orang lapar akan makan, lalu puas. Hanya sementara. Setelah itu, lapar lagi. Orang yang terobsesi dengan jasmaninya akan susah mengenali hati nuraninya. Orang kerja untuk mencari makan. Karir untuk kepuasan. Posisi untuk kebanggaan. Kekuasaan untuk mencari pemuasan Puas ketika mengalahkan orang lain.
The world is enough for all men’s need but not enough for one man’s greed.
Mengejar kepuasan akan berujung keserakahan, dan keserakahan tidak ada ujungnya.
Yang perlu diingat adalah hidup ada batas waktunya. Itu sebabnya orang yang mencari kepuasan akan terkejut ketika menghadapi kematian. Dia mati dalam penderitaan karena merasa belum cukup puas dengan hidupnya. Hanya satu hal yang bisa menyelamatkannya sebelum terlambat, yaitu: bersyukur.
Syukur
Allah memberikan pendengaran, penglihatan, dan hati, supaya mereka bersyukur
Sayangnya, kebanyakan manusia tidak bersyukur. Padahal makanan hati adalah syukur, menurut Imam Al Ghozali. Hanya syukur yang bisa menghentikan dorongan hawa nafsu yang selalu mengejar kepuasan.
Perbedaan syukur dan gratitude
Ada seorang peserta yang bertanya: Psikologi Barat juga membahas syukur (gratitude), terutama psikologi positif. Apakah konsep syukur dan gratitude berbeda ?
Pak Bagus menjawab, bahwa Gratitude itu belum sampai pada tingkat syukur. Gratitude masih sebatas terima kasih, sedangkan syukur bukan hanya itu.
Ketika Aisyah ra. bertanya mengapa Rasulullah masih “menyiksa diri” dengan sholat malam yang lama sampai kakinya bengkak, padahal beliau sudah dijamin masuk surga. Rasulullah SAW menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur ?”
Kita bisa mengambil ‘ibroh dari kisah itu. Syukur itu berarti tidak ada keluh kesah; merupakan kunci kebahagiaan; mengakui, menerima, dan membuka diri terhadap Rahmat Allah.
Dan ingatlah juga, tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), makan sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih”. QS Ibrahim: 7.
Lawan dari syukur adalah kufur, yang artinya menutup diri. Orang yang bersyukur hatinya terbuka, ini yang dimaksud dengan membuka diri terhadap Rahmat Allah. Orang yang bersyukur mampu melihat dan mengambil hikmah, serta berprasangka baik pada Allah.
Mustahil bagi orang yang bersyukur itu berkeluh kesah. Ketika Nabi Ayub as. diprotes istrinya tidak mau berdo’a minta kesembuhan pada Allah setelah menderita sakit selama 7 tahun, beliau menjawab “Apakah pantas berkeluh kesah hanya karena sakit 7 tahun, padahal sudah menikmati sehat 40 tahun ?”
Itulah contoh sikap seorang yang bersyukur. Tidak ada sesuatupun yang dapat membuatnya sedih. Sesungguhnya kebanyakan orang suka berkeluh kesah kecuali mereka yang beriman dan beramal sholeh. Orang yang tidak beriman tak akan mampu bersyukur.
Syukur sebagai makanan Hati
Orang yang kurang bersyukur akan sakit hatinya, karena syukur adalah makanan hati, seperti kata Imam Ghazali. Kalau hati susah makan, maka dia akan sakit. Dengan kata lain, obat yang mujarab bagi penyakit hati adalah bersyukur. Orang yang membiasakan diri bersyukur akan menjadi pandai bersyukur, jadi bersyukur itu harus selalu dilatih.
Perbedaan sabar dan syukur
Sabar dan syukur itu dua sisi dari “mutiara” yang sama. Syukur akan memberi kekuatan pada sabar. Sabar adalah sisi yang “menghadap” pada kesulitan, sedangkan syukur adalah sisi yang “menghadap” pada kenikmatan.
Nabi Ayub bisa bersabar terhadap penyakitnya karena mensyukuri saat beliau sehat. Nabi Muhammad SAW bersabar dalam menjalankan shalat malam karena didorong oleh rasa syukurnya yang mendalam.

banumuhammad:

Ilmu psikologi sebenarnya ingin membahas manusia secara utuh, namun sayangnya tidak. Batasan yang dibuat pun karena mereka berusaha untuk jujur terhadap keterbatasan diri mereka sendiri, tetapi tetap mengingkari Tuhan dan kitab suci. Sebaliknya, dalam Psikologi Islam, ilmu tidak dibatasi karena kita punya Al-qur’an sebagai andalan, sumber inspirasi, dan tempat untuk mengkonfirmasi.

Manusia punya sifat-sifat dasar yang sudah ditentukan Allah. Hakekat manusia adalah berasal dari Allah, dan akan kembali pada Allah juga. Ini yang tidak diperhatikan oleh Psikologi Barat. Wajar jika banyak penyakit psikologis muncul. Penyakit psikologi paling mendasar adalah jika mereka mengingkari hakekat manusia. Pengingkaran itu berdampak pada keadaan manusia yang menjadi cemas, depresi, stress, kejam, dan linglung. Sebaliknya, manusia yang sehat adalah yang meyakini dan menghayati kenyataan ini sehingga hatinya tenang, tabah, bahagia, sabar, dan syukur. Itu merupakan rumus yang sederhana.

Tapi pertanyaannya adalah mengapa kalau hanya begitu rumusnya, kok banyak orang bermasalah ?

Di sinilah pentingnya psikologi Islam. Ibaratnya seperti pernyataan “langit ditinggikan tanpa tiang”. Bagi orang awam itu sangat sederhana. Memang langit tidak ada tiangnya. Namun dengan ilmu fisika, ternyata pernyataan sederhana itu maknanya luar biasa, dan bagi orang yang beriman ilmu fisika yang mengungkap  rahasia langit itu akan menggetarkan hatinya dan membuatnya menangis tersedu karena dapat mengenal Allah lebih dekat. Demikian pula dengan psikologi Islam. Psikologi Islam adalah ilmu yang semestinya dapat membuat hati kita bergetar ketika mengingat Allah karena hidup kita ini semuanya adalah dalam rangka kembali pada Allah.

Hal yang tidak kalah penting juga adalah ilmu, agar kita dapat memahami Islam itu sendiri. Al-qur’an itu wahyu yaitu petunjuk atau referensi yang disediakan Allah untuk yang mau menuntut ilmu, dan Allah mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu.

Tanya jawab:

  1. 1.     Mengenal diri, mengenal Allah

Pertanyaan: Ada perkataan ulama: man ‘arofa nafsahu faqod ‘arofa rabbahu (Siapa yang mengenal dirinya, dia akan mengenal Tuhannya). Proses mengenal diri yang menjadi pintu mengenal Tuhan atau sebaliknya ? atau paralel ?

Jawaban: Tuhan itu sudah kita kenal di hati kita dalam keimanan kita, tapi kehidupan kita di dunia ini cenderung melenakan sehingga kita lupa.

Untuk memperkuat iman kita  di hati, kita perlu ikhtiar dengan ilmu. Ilmu yang benar akan bertemu dengan keimanan di hati. Itulah sebabnya orang yang ilmunya benar hatinya tenang. Kalau ada ilmu tapi justru membuat hati gelisah, berarti ilmunya kurang benar.

Menurut Imam Al Ghozali, mengenal diri jadi pintu untuk mengenal Allah. “Diri” dalam hal ini maksudnya jiwa, bukan sekedar mengenal fisiknya saja. Bukan sekedar kenal kepribadian saya seperti ini, kalau lapar makan, kalau sakit istirahat. Lebih dari itu: mengenali jiwa dalam diri, termasuk menjawab bagaimana diri diciptakan, dari mana asal kita, untuk apa hidup di dunia ini, ke mana kita akan pergi. Itu merupakan pertanyaan mendasar dalam hidup. Kalau kenal jiwa, pasti kenal Allah karena pada dasarnya juga jiwa manusia memang kenal Allah, bahkan sebelum manusia lahir. Itulah hati yang sudah kenal Allah. Orang awam sebut itu hati nurani. Sayangnya, Psikologi Barat tidak paham apa itu hati karena menurut mereka semua itu ada di otak. Termasuk istilah God Spot itu mereka bilang ada di otak.

Masih menurut Imam Al Ghozali. Hati versi fisik itu berupa jantung, namun hati yang sejati itu sifatnya ghoib, dan itulah yang mengendalikan otak, merindukan kebenaran, dan Allah. Hati itu yang menarik manusia pada taqwa. Sayangnya hati yang ghoib itu bisa kotor karena dosa, sehingga cahaya kebenaran tertutupi.

Imam Al Ghozali mengibaratkan hati itu cahaya di dalam cermin. Dosa seperti noktah hitam yang menempel di cermin itu sehingga cahayanya tak menerangi jiwa kita lagi. Jiwa adalah pengambil keputusan dalam diri kita. Fitrah manusia adalah kebebasan untuk memilih. Semua manusia pada dasarnya bebas.

Mereka yang berteriak-teriak menuntut kebebasan sesungguhnya dikuasai oleh hawa nafsunya. Hawa nafsu ini sumbernya hati yang fisik. Mereka ingin dunia. Ingin memuaskan hawa nafsunya. Mereka sesungguhnya sedang mengingkari kebebasannya sendiri yang seharusnya berpihak pada hati nurani. Nur= cahaya. Hati nurani = hati yang hahekatnya cahaya. Allah adalah cahaya di atas cahaya. Maka hati nurani kita hakekatnya merindukan Allah.

  1. 2.     LGBT (Lesbian Gay Bisexual Transeksual)

Ada salah satu anggota MA 19 yang bertanya soal LGBT. Dia selama ini belajar di bidang psikologi. Orang-orang LGBT dianggap normal jika mengacu pada DSM (Diagnostic Statistic Manual). Ini realita pahit yang perlu diketahui.

LGBT merupakan penyakit hati. Sekali lagi, Psikologi Barat tak mengerti ilmu hati, jadi wajar kalau mereka tak memasukkannya ke DSM. Penyakit hati lebih mendasar karena itu sebab utamanya dari segala bentuk  gangguan psikologis.

Realita pahit lainnya adalah DSM sekarang dianggap sebagai “kitab” psikologi, lalu bagaimana kita sebagai muslim harus bersikap terhadap LGBT?

Orang-orang LGBT pada jaman Nabi Luth, sebagai penguasa kaumnya dan mayoritas. Pengikut Nabi Luth itu orang-orang lemah dan miskin. Nabi Luth dihormati sebagai orang sholeh tapi dilabel sok suci dan “anti kebebasan”. Nabi Luth tak mampu lagi menasehati mereka, lalu mengadu pada Allah. Kejadian itu yang akan terjadi lagi di akhir jaman. Itu sebabnya orang Islam wajib beraliran Psikologi Islam. DSMnya Ihya Ulumuddin. Tidak ada kata untuk berparadigma Psikologi Islam selama masih hidup. Yang berbahaya itu kalau mati masih berparadigma Psikologi Barat.

Andalan kita Allah walau akan diejek oleh mainstream seperti Nabi Luth. Mazhab Psikologi Islam harus dibangun dengan kokoh, niatnya adalah dakwah.

Serial Inspirasi Qur’ani

Tidak ada yang mengingkari betapa pentingnya kisah dalam tradisi lisan manusia, terlebih dalam tradisi kesusastraan. Kisah atau cerita merupakan salah satu cara terbaik dalam mewariskan makna, kesan, dan pesan yang mendalam dalam jiwa pendengar dan penyimaknya.

Kisah atau cerita dalam tradisi lisan manusia, umumnya menjadi konsumsi pembicaraan khalayak umum, karenanya kebenaran faktual dalam kisah atau cerita tak begitu penting. Yang terpenting adalah aspek artistik kisah tersebut yang dikemas dengan diksi, penggambaran latar suasana, penempatan tokoh, pengaturan alur dan seterusnya, agar ia menjadi semenarik mungkin di telinga pendengar atau di benak pembaca. karenanya dapat disimpulkan secara sederhana, seni kisah merupakan seni “mencipta peristiwa”, yang boleh jadi bersumber dari peristiwa yang bercampur dengan renungan dan imajinasi pemilik cerita.

Kisah Qur’ani sangat berbeda dari definisi standar di atas, ia bukan semata layaknya “karya seni sastra” semata yang bertujuan “seni sastra”, tetapi lebih dari itu ia mengandung tujuan kutural-religius sekaligus, yang membangun persepsi tentang Sunnatullah (hukum-hukum ilahi) yang berlaku dalam kemanusiaan, berbasiskan kaidah iktibar dan perenungan.

Dalam memenuhi dua maksud utama tersebut; sebagai “seni sastra” yang juga bertujuan kultural-religius, kisah Qur’ani tak cukup dengan kemasan pada aspek artistik, namun juga sangat mementingkan kebenaran historis secara faktual, karena kisah Qur’ani sejatinya mencerminkan karakter khas Qur’an itu sendiri, yang menyentuh aspek-aspek intuisi keindahan dalam jiwa manusia, sekaligus membangkitkan kesadaran religius-transendental. Sebagaimana Al-Qur’an mengajak bicara hati, ia juga mengajak bicara akal, dan kesadaran religius (tadayyun) tak mungkin dibangun di atas persepsi yang lemah secara faktual-historis, namun harus dibangun di atas kebenaran yang pasti (al-haq).

Kisah Qur’ani dalam Al-Qur’an diistilahkan dengan “qashash” / قصص , istilah ini sendiri secara implisit menegaskan makna tentang hakikat kebenaran historis yang ada dalam kisah-kisah Qur’ani tersebut, bahwasanya ia benar-benar terjadi dan diceritakan sebagaimana adanya. Qisshah قصة yang makna dasarnya secara etimologis berarti; “menapaktilasi jejak” / تتبع الأثر واقتفاؤه digunakan oleh Al-Qur’an sebagai istilah yang menggambarkan peristiwa-peristiwa sejarah yang betul-betul terjadi.

Selain penggunaan istilah “Qisshah” untuk menceritakan kisah-kisah tersebut, dalam banyak tempat Allah Ta’ala secara eksplisit juga menegaskan kebenaran historis ini; sebagaimana terekspresikan setelah kisah Zakariya, Maryam, dan Isa ‘alayhimussalam;

- إنَّ هَذَا لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّ [آل عمران : 62]
“Sesungguhnya ini adalah kisah yang benar..”Ali Imran: 62)

Penegasan makna ini tidak hanya sekali, tapi juga terulang, misalnya sebelum memulai kisah panjang tentang Ashabul Kahfi (Penghuni Gua)

- نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ [الكهف : 13]
“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar..”

Penegasan kebenaran historis kisah-kisah Al-Qur’an ini, berimplikasi pada tujuan utama dari keberadaan kisah-kisah tersebut, yaitu penegasan akan kebenaran risalah Muhammad saw, bahwa tidak ada campur tangan manusawi dalam kebenaran risalah.

Pertanyaan sederhananya; dimana letak relevansinya? antara kebenaran historis kisah-kisah Qur’ani dengan ketiadaan campur tangan manusia pada risalah Muhammad saw? Jawabannya adalah; kisah-kisah tersebut semuanya adalah tentang masa lalu jauh sebelum kehidupan Muhammad saw, dan pada masa itu –dalam logika sederhana- sulit dicari sumber sejarah primer tentang kehidupan masa lalu yang mendetil. Karenanya, pembuktian utama tentang keberadaan kehidupan kaum di masa lampau secara mendetil tak lain adalah bersumber dari wahyu (divine source). Dalam logika ringkas; bagaimana mungkin Muhammad yang ummiy –buta huruf- dan ketiadaan sumber primer tentang kehidupan jauh pra Islam, dapat menceritakan kabar di masa lampau dengan sangat detil? Dalam masalah ini, seorang orientalis, Ignac Goldziher, memunculkan hipotesa yang absurd bahwa risalah Muhammad saw tak lain semata mencampur dan memilah dari wawasan yang terinspirasi dari interaksinya dengan budaya agama Yahudi dan Nasrani. Betapa absurd !

Kisah Qur’ani; Ringkasan Sejarah Kemanusiaan

Kisah-kisah Qur’ani jika direnungkan dengan sebenar-benar, memberikan kesimpulan penting; meski Al-Qur’an bukan buku cerita, bukan pula buku sejarah –yang karena itu tidak menceritakan seluruh peristiwa kehidupan di atas muka bumi- , tapi ia meringkas seluruh sejarah kemanusiaan. Ia meringkas seluruh substansi yang terus terulang dalam sejarah manusia pada setiap generasi, apa yang diistilahkan sebagian cendekiawan, dengan “sunnah nafsiyah سنة نفسية “ –tabiat jiwa- pada tataran individu, dan “sunnah ijtimaiyah سنة اجتماعية” –tabiat sosial- pada tataran komunitas.

Sunnah Nafsiyah –tabiat jiwa- pada tataran individu, misalnya, dapat kita rasakan kehadirannya pada kisah Yusuf as, yang hanya tercantum satu kali saja dalam Al-Qur’an. Surat Yusuf, begitu Allah mengabadikan sosok ini, menggambarkan tabiat manusiawi seorang ayah yang mungkin saja sulit berlaku adil dalam kasih sayang, serta rasa iri saudara-saudara Yusuf yang sangat manusiawi. Allah juga mengekspresikan tabiat manusiawi dalam hal ketertarikan antar lawan jenis, dan bagaimana seharusnya jiwa yang matang dengan iman mengendalikannya.

Sedangkan Sunnah Ijtimaiyyah –tabiat sosial- pada tataran komunitas, seringkali dapat kita temukan di banyak tempat dalam Al-Qur’an, tentang kaum-kaum yang bergelimang dalam kemakmuran dan kezaliman sosial, serta pendustaan kepada para nabi. Tentang kaum Aad pemilik kekuatan fisik, Tsamud penghancur gunung dan merubahnya menjadi rumah, Fir’aun pemilik bala tentara tak terbatas, tentang Qarun pemilik kunci-kunci gudang harta tak terhingga, serta Yahudi dengan segala tabiatnya sepanjang masa.

Kedua tabiat tersebut adalah substansi kehidupan dalam sejarah manusia yang terus berulang pada setiap generasinya. Karenanya, tak berlebihan jika kisah-kisah Qur’ani “meringkas” sejarah kemanusiaan.

Dalam sudut pandang lain, kisah Qur’ani merupakan sarana yang merekam gambaran “profil-profil kemanusiaan” yang berbeda-beda, meskipun dalam level setara semisal; nabi dan Rasul, mereka memiliki karakter dan cara masing-masing yang khas dalam sejarah hidup dan dakwah mereka.
- Ada tipe Nuh; sosok dengan kesabaran yang mengalahkan waktu 950 tahun, namun di akhir ia mohon kepada Rabbnya agar tak menyisakan seorangpun dari kaumnya,
- ada tipe Musa; sang pembebas Bani Israil yang mendyang mendoakan kebinasaan bagi Fir’aun dan pengikunya,
- ada tipe Ibrahim yang berkata; “siapa yang mengikutiku, ia bagian dariku, siapa yang ingkar padaku, sesungguhnya Engkau –Ya Allah- Maha Pengampun. Lagi Penyayang”
- Ada pula Isa; yang bertutur; “Ya Allah, jika Engkau azab mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba2Mu, namun jika Engkau ampuni mereka, sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Bijaksana”.

Semua uraian di atas, tentang ringkasan sejarah kemanusiaan dan contoh-contoh profilnya , menegaskan satu kesimpulan penting; Al-Qur’an adalah Kitabul Insaniyah كتاب الإنسانية yang secara diperuntukkan untuk membimbing hati, jiwa, dan akal manusia secara paripurna.

WAllahu A’lam
Riyadh, 251113
____________________________________________________________________
Referensi utama;
1. Ulumul Qur’an, wa I’jazuhu wa Tarikhu Tautsiqih (Ilmu-Ilmu AlQur’an, Mukjizat dan Sejarahnya), Prof Dr Adnan Zarzur.
2. AtTashwir Al-Fanny fil Qur’anil Karim (Gambaran Artistik dalam AlQur’an), Sayyid Quthb.

Penulis : Ustadz Faris Jihady, Lc (Fasilitator MA 6)

Inspirasi Qur’ani

Surat ini secara umum memberikan pemahaman yang sangat penting dan mendasar, serta mengoreksi pemahaman dan persepsi manusia yang secara alamiah terbangun tanpa sadar dalam benaknya.

Pemahaman yang sangat penting dan mendasar tersebut adalah tentang 2 hal;
1. Hakikat Tuhan, Allah Subhanahu wa Ta’la
2. Hakikat Manusia, dan hubungannya dengan dua pihak; Tuhannya, Allah Ta’ala, dan musuhnya, syaithan

Bagi manusia yang sedang membangun persepsi dan keyakinannya tentang ketuhanan, kemanusiaan dan hubungan antar keduanya, perenungan surat ini menjadi penting. Karena diatas persepsi yang benar inilah segala tindak-tanduk, cara berpikir dan berperilaku dibangun dan dibiasakan dengan cara yang benar.

Persepsi dan keyakinan ini pun diperolehnya harus dari sumber tunggal; karena itulah Allah mengawali surat ini dengan talqin (dikte) berupa kata قل Qul “katakanlah”, demi menihilkan sumber lain dalam membangun persepsi dan keyakinan, semata bersumber wahyu, bukan hasil rekaan dan mitos turun temurun.

Persepsi tentang Hakikat Tuhan, Allah Ta’ala dikenalkan kepada manusia dalam konteks keadaan manusia yang paling lemah, saat dia minta perlindungan dan pertolongan. Allah mengenalkan diriNya dalam tiga makna sifat secara bertingkat; dimulai dari sifatNya yang paling umum, Rabb, kemudian lebih khusus Malik (Raja), kemudian lebih khusus lagi dan inilah yang paling tinggi, Ilah (Sesembahan yang diibadahi). Allah Ta’ala sebagai Rabb disebut di awal urutan karena inilah sifat dari DzatNya yang paling dasar dikenali manusia. Sebagaimana ditegaskan oleh ayat-ayatNya yang lain; “dan jika kamu tanyakan mereka –orang musyrik- siapa yang menciptakan mereka, niscaya mereka berkata; Allah”.

Malik (Raja) dikenalkan kepada manusia untuk mengoreksi apa yang dikenali manusia dalam kehidupannya berupa kuasa para penguasa, dan kerajaan para raja. Kuasa dan kerajaan manusia dibatasi waktu dan tempat, satu-sama lain saling menaklukkan dan berebut pengaruh, memaksa manusia untuk tunduk patuh. Allah kenalkan diriNya sebagai Malik-Rajanya manusia, agar manusia tak pernah menyandarkan ketakutan dan kepatuhan kepada sesamanya, meski berlabel penguasa, namun menyandarkan puncak takut dan kepatuhannya hanya kepadaNya. Rasa takut inilah yang membebaskan, rasa patuh inilah yang memerdekakan, dan ketundukan inilah yang menyetarakan semua makhluk tanpa terkecuali.

Pada level puncak tertinggi, Allah kenalkan diriNya kepada manusia sebagai Ilaah إله (sesembahan/objek yang diibadahi). Inilah titik pembeda yang memisahkan antara manusia dengan sesamanya, ketika manusia semata menyembah/meng-ibadahi semata Allah Ta’ala ia jauh lebih mulia dibandingkan manusia lain yang menyekutukanNya, atau bahkan mengingkariNya.

Pengenalan manusia tentang hakikat Tuhannya, Allah Ta’ala, merupakan proses pencarian yang tak pernah berhenti. Ada kalanya pikiran-pikirannya liar, diterpa syubhat-keraguan tentang DzatNya. Dan kita lebih berhak untuk ragu dibandingkan Ibrahim. Terlepas apakah manusia mampu menjawab keraguan tersebut, atau hanya mampu diam, atau semata melupakannya, tak begitu penting selama ia berusaha tak goyah. Karena jawaban paling sederhana yang tak butuh dialektika-filsafat justru muncul di saat paling lemah –saat ia butuh perlindungan-, “katakanlah Aku berlindung kepada Rabb manusia, Raja manusia, dan Ilaah manusia”.

Manusia –AnNaas- dalam surat ini diabadikan menjadi nama surat, ia mewakili entitas makhluk hidup yang Allah muliakan. Itulah mengapa ia sebut tiga kali berturut-turut. Allah tak cukupkan penyebutannya sekali kemudian diwakili dengan kata ganti, demi mengingatkan manusia tentang hubunganNya dengan Allah. Seakan kemuliaan manusia terulang tiga kali, jika dia tauhid-esakan Allah sebagai Rabb, Raja dan Ilaah. Kata ArRazi; seandainya manusia adalah makhluk yang hina tak mungkin Allah tutup kitabNya dengan mengenalkan DzatNya sebagai Rabb, Raja, dan Ilaah (Sesembahan) mereka.

Panduan Qur’ani tak semata membimbing manusia tentang bagaimana menjadi manusia mulia dengan mengenali Tuhannya, tapi juga mengenali musuhnya dengan sebenar. Allah Ta’ala sebutkan ciri khas utama yang melekat pada musuh; selalu berbisik dan tersembunyi. Musuh ini menggabungkan dua sifat utama; dia selalu berbisik, dan dia selalu tersembunyi, kombinasi sempurna yang menggelincirkan, menjerat, dan membinasakan manusia.

Karena bisikan selalu bersifat halus, naluri kewaspadaan akan berkurang, tak sadar bahwa itu adalah upaya musuh untuk memutarbalikkan persepsi kita tentang kebenaran. Syubhat-keraguan pun menerpa, kebenaran menjadi asing dan salah, sementara keburukan menjadi biasa dan benar, syubhat yang dibisikkan seringkali menyerang para ahli ilmu dan intelektual. Bisikan juga berupa syahwat, tenggelamnya manusia dalam nafsu yang didahulukan di atas akal, sehingga terjerat ke dalam maksiat.

Sedangkan ketersembunyian menegaskan persepsi bahwa musuh tak selalu di depan mata. Musuh bersembunyi dalam kesiagaan, sekali menemukan celah ia akan masuk.

Apakah musuh-syaithan- ini selalu bersifat tak kasat mata, makhluk halus? Persepsi ini diluruskan oleh Allah melalui surat ini, dengan mengisyaratkan bahwa syaithan bukan semata makhluk, namun juga sifat. Karenanya ia dapat “terjelmakan” dalam manusia secara fisik. Penyadaran tentang bahaya musuh dalam wujud yang sejenis sangat penting karena manusia sering menyangka ia adalah teman. Karenanya boleh jadi upaya bisikannya lebih halus dan menjerat.

Manusia, dalam hubungannya dengan Allah-Tuhannya, dan hubungannya dengan syaithan-musuhnya, akan selalu tarik menarik. Betapa jika Dia dekat dengan Allah, ia akan jauh dari musuhnya, namun jika ia jauh dariNya, ia sudah pasti dekat dengan musuhnya. Hanya ada dua pilihan, tidak ada yang ketiga.

Wallahu A’lam

Penulis : Ustadz Faris Jihady, Lc (Fasilitator MA 6)

In today’s Jumuah Special you’ll learn how to be productive through Surah Al-Falaq!

Uqbah ibn Amr Al-Juhani reported:The Prophet, salallahu ‘alayhi wa sallam said, “Allah has revealed verses the like of which you have never seen: Say, I seek refuge in the Lord of the people(114:1) and: Say, I seek refuge in the Lord of the daybreak.” (113:1)[At-Tirmidhi]

Why do you think Allah ‘azza wajal mentions the shaytan, his history, mission and followers in the Quran so much? That’s right, to give us knowledge so we are prepared and learn how to fight back! Knowing your enemy is extremely important to succeed in life and knowing the ways how you can protect yourself is therefore directly linked to your productivity.

Surah Al-Falaq, the Daybreak, teaches us an excellent way to protect ourselves. But there is more! Let’s find out how living by this beautiful surah can make you more productive!

Build Surah Al-Falaq into Your Routine

It is the sunnah of the Prophet salallahu ‘alayhi wa sallam to recite the last three surahs once after every salah and thrice after fajr and maghrib. Aishah radiyallahu ‘anha reported that before sleeping, the Prophet used to blow into his hands, recited the last three surahs and then wipe with his hands over his body [Al-Bukharee and Muslim]

Who amongst us wants to get protection? Everyone! So first of all, we need to make it a habit to recite these surahs regularly

So your first action point is: carefully make sure you recite Surah Al-Falaq (and Surah Al-Ikhlaas and Surah An-Naas) at above mentioned times. . By doing so you get two benefits: you get protection and you receive the reward of following the sunnah!

8 Productivity Lessons From Surah Al-Falaq

Ayah 1: Say (qul)  I seek refuge (a’oodhu)  in (the) Lord (birabbi) of the daybreak (al-falaq)

1. Seek your safety with Allah. One of the most unproductive ways of dealing with fear, jealousy, attacks from people and illnesses is by seeking protection in other things than Allah. Never think people or objects can protect you. Realize first and foremost that all the danger and evil around you, day and night, can only be averted by Allah and He uses other people and things to give you protection. So ask Him for protection only. Never fear anything but Him and use the ways of protection He taught you.

2. Study the Beautiful Name of Allah: Rabb. He is the One Who takes care of everything and helps it grow and He brings out the day from the darkness of the night. Symbolically darkness can mean your problems, trials and stress and the daybreak your rescue. Know that Allah is your Rabb, He was the only One Who could nourish and protect you when you were in the womb and He is still the only One who can nourish and protect you.

3.Reflect on the Sun. He is the Rabb of the daybreak. Reflect on and study about the sun, the source of daylight, its distance from the earth and you will realize the greatness of the Lord of the daybreak!

4. Convey. Allah says ‘Say’, convey this important surah to others and teach others how to use it for protection.

Ayah 2 and 3: From (min) (the)evil (sharri)  of that which (maa) He created (khalaqa) and from the evil (wa min sharri)  (of) darkness (ghaasiqin) when (idhaa)  it becomes intense (waqab)

5. Don’t spend your free time with the devil. At night the time for work is over and people are relatively free. That’s exactly the time when your mind easily becomes corrupted by shaytan; an empty man’s brain is the devil’s workshop. Most of the indecent tv programs, parties and movies happen when? At night. When you are finished with work or the children are asleep it is very easy to fall into time waste. You don’t always have to be busy but a productive Muslim will also spend their ‘free’ time with acts that are not displeasing to Allah. You can watch a lecture, talk to a relative with the intention to strengthen the ties of kinship or relax with your spouse, which is even classified as rewarding! Remember it is all about intention.

6. Don’t stay awake until late for no reason. Staying awake late is also evil as it brings you three harms. You might miss fajr, it is harmful for your health and you lose the productivity blessings which are put in morning work. Allah created the night for us to rest and one of the main causes of depression is staying awake at night, it’s a big productivity killer!

Ayah 4 and 5: And from (the) evil (wa min sharri) (of) those who blow (naffathaati)  in the knots (fee al ‘uqad)  and from the evil (wa min sharri)  (of) the envier (haasidin)  when (idhaa)  he envies (hasada).

7. The best cure for magic and other evils. The Prophet said the evil eye is real. Magic is real. Many Muslims are feeling tired, ill, lazy and completely unproductive because they might suffer from magic or the evil eye. Many people are even scared to visit certain relatives because of it. This surah is the best cure for all these problems. Recite it with conviction to protect yourself.  Teach your children from young to recite it before they go to sleep so it becomes a habit.

8. Ask protection against jealousy of others and yourself! A jealous person will either try to destroy your reputation, work, property or hurt you. Pray to Allah that you are never jealous yourself of anyone and that He protects you from those who are jealous of us. The Prophet salallahu ‘alayhi wa sallam said: Beware of envy because envy consumes (destroys) vthe virtues just as the fire consumes the firewood [Abu Dawud]. An extra tip here is to be careful what you share on social media of your private life; your pictures of happy days with family, a new car or new clothes. Be humble with the blessings Allah gave to you. And when you do see the blessings of others ask Allah to give them to you too, but without being jealous. That way you will feel much more peaceful inside in these times of people competing in belongings, money, careers etc!

source : http://understandquran.com/surah-al-falaq-daily-productivity-guide.html

Ini sama sekali tidak berhubungan dengan film ‘Ada Apa dengan Cinta’ :D

Namun mungkin ada yang memiliki rasa penasaran yang sama seperti saya. Kalau di surah An Naas, Allah menyebut diri Nya sebagai ‘Rabb An Naas’ atau ‘Tuhan Manusia’, di Al Ikhlas muncul term ‘Ahad’ dengan kekokohan nilai tauhid didalamnya. Lalu ada apa dengan ‘Falaq’ atau ‘Waktu Subuh’?

Tulisan ini mengutip dari literatur utama Tafsir Lingistic Miracle dari Bayyinah Institute, semoga saya bisa menerjemahkan dan menyampaikan maksud tulisan tersebut dengan baik ya :D

Dalam literatur tersebut dijelaskan makna kata ‘Falaq’ itu sendiri. ‘Falaq’ - ‘Fal-laqa’ - dalam bahasa Arab klasik bermakna 'memecahkan / merobek sesuatu dan sesuatu itu akan muncul / keluar'. Seperti ketika kita merobek sebuah bantal, maka akan keluarlah isinya berupa kapuk atau busa-busa didalamnya.

Kalau kita bayangkan, definisi ini cukup konsisten dengan makna ‘Falaq’ yang berarti ‘Waktu Subuh’, karena di waktu subuhlah matahari terbit dan ‘merobek’ kegelapan. Cracks of Sunlight breaks through the darkness.

Di berbagai literatur pun disebutkan ‘Falaq’ juga memiliki arti ‘Khalq’ yang bermakna ‘yang terciptakan’. Karena semua yang tercipta di dunia ini pasti keluar dari sesuatu yang lain yang menjadi asalnya.

Mata air yang jernih terpancar berasal dari pegunungan, air hujan turun dari sekumpulan awan, tumbuhan muncul dari dalam bumi (nabat min al ardd), bayi keluar atau terlahir dari perut ibu nya..

Bahkan konsep ‘Big Bang’ yang hingga saat ini diyakini sebagai proses terciptanya alam semesta, pun diyakini para peneliti berawal dari sebuah titik mula (asal), yang membentuk alam semesta, dan meluas hingga seperti yang kita ketahui saat ini.

Sehingga ‘Falaq’ sebenarnya bermakna ‘created’ atau ‘tercipta’, karena semua kehidupan tercipta dari sesuatu yang lain. Yap, all life comes into existence through tearing out through something else.

Maka ‘Falaq’ (the morning daybreak) adalah saat ketika matahari keluar dan ‘memecah’ gelapnya malam, dimana semua elemen kehidupan baik manusia, tumbuhan, hewan, bakteri, dan semuanya dapat hidup karenanya.

Subhanallah..Allah seakan ingin memberikan tanda kepada kita, bahwa Allah adalah satu-satunya Sang Pencipta, ‘the Master of Birth’, ‘the Master of Life’.

ﻟَﻢْ ﻳَﻠِﺪْ ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﻮﻟَﺪْ

”..Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,” (QS Al Ikhlash 3)

He owns the Creation, He is not part of the creation. Allah lah pemilik semua penciptaan yang ada di alam semesta ini, bukanlah bagian dari penciptaan tersebut.

Ini bukan hanya tentang ciptaan fisik seperti manusia dan alam semesta saja, namun juga Allah lah yang telah mendesain setiap takdir kita, tiap-tiap kondisi kita, pun permasalahan yang kita hadapi hari ini, semua telah melalui verifikasi Allah! Maka siapakah yang mampu ‘memecahkan’ nya? Siapakah yang mampu membantu kita menyelesaikannya?

Hanya Allah, Rabb Al Falaq. Allah lah satu2nya yang dapat memberikan kita ketenangan, memberikan petunjuk yang terang benderang di tengah kegelapan sulitnya kehidupan kita..

ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻭَﻟِﻲُّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻳُﺨْﺮِﺟُﻬُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻆُّﻠُﻤَﺎﺕِ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ ۖ َ

"Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)." (QS Al Baqarah 257)

Kegelapan hampir selalu diasosiasikan dengan kesulitan, permasalahan hingga sosok syaitan. Maka pada surah Al Falaq, semua isi surah ini memberikan ilustrasi kepada kita semua tentang bahaya kegelapan (darkness). Dengannya pula, Allah menawarkan masalah sepaket dengan solusinya..Solusi utk melenyapkan semua kegelapan itu, dengan hanya menyebutkan sebuah kata : Falaq.

Falaq, yang akan ‘memecahkan’ gelapnya langit di waktu fajar, dan membawa cahaya yang terang benderang untuk menyinari dan merahmati kita semua..

Allahu Akbar, wa lillahil hamd.

Ilustrasi super keren tentang Surah Al Falaq! Buat yang belum pernah nonton, highly recommended :D

Buat yang ngedengerinnya agak kecepetan, boleh kali ya diceritain dikit :)

Pada video keren ini diceritakan, bahwa di surah Al Falaq ini Allah ingin kita berfikir seperti seorang tukang kebun, dimana seorang tukang kebun harus menjaga tanaman-tanamannya agar tetap bertumbuh dengan baik bukan?

Pertama, ada makhuk-makhluk lain yang ingin mengganggu tanaman kita tumbuh dengan baik bahkan ingin memakannya, mereka seperti kambing, wereng, serangga-serang lain, dan sebagainya. Apakah mereka ingin ‘menyerang’ tanaman kita karena mereka jahat? Tidak! Karene fitrah mereka seperti itu..Kambing dan wereng fitrahnya memang makan tanaman. Sebagaimana macan memakan kambing atau rusa, elang memakan ular, dan sebagainya.  

Persis dengan kehidupan kita, ketika kita berusaha meraih sesuatu pasti ada saingannya. Pingin dapet ranking satu, ada saingan siswa yang lain, mau dapetin kuliah sesuai yang diinginkan juga saingan dengan anak-anak SMA yang lain, dapat kerja, nyari proyek, dan sebagainya. Apakah karena mereka  semua jahat? Tentu tidak, karena mereka juga sama berikhtiar pula dengan kita. Termasuk iman kita, ada hal-hal yang mungkin membahayakan iman kita karena seseorang tapi bukan berarti beliau jahat dengan kita..

مِن شَرِّ مَا خَلَقَ

"Dari kejahatan makhluk-Nya..” (QS Al Falaq : 2)

Got the point? :)

Kedua, seorang tukang kebun juga harus memperhatikan tanamannya selalu mendapatkan cahaya yang baik, tidak menempatkannya dalam kegelapan di tempat yang tertutup atau membiarkan ada sesuatu yang menghalangi cahaya tersebut. Begitu pula dengan iman, ia pun harus dijaga dari kegelapan, dijaga dengan baik untuk terus mendapatkan cahaya iman seperti Qur’an, nasihat-nasihat yang baik, dan seterusnya.

وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ

"dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,” (QS Al Falaq : 3)

Ketiga, seorang tukang kebun juga harus menjaga agar tanamannya tidak kelebihan air, tidak kelebihan pupuk, atau pun kelebihan panas sehingga membuatnya menjadi kering. Asosiasi sesuatu yang ‘berlebih’ ini diibaratkan dengan sihir. Sihir bukan lah sesuatu yang mengubah atau mengintervensi tubuh kita, namun ia hanya rekayasa jin yang men-trigger tubuh kita untuk bersikap berlebihan dari biasanya..Sehingga muncul efek-efek samping seperti pusing, pingsan, berteriak-teriak, dan sejenisnya.

وَمِن شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ

"dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,” (QS Al Falaq : 4)

Dan terakhir, seorang tukang kebun pun juga harus waspada dengan pihak-pihak yang memang sengaja untuk mematikan tanamannya. Orang-orang yang iri dengan hasil tanaman kita, orang-orang yang dengki sehingga ingin melenyapkan nikmat tanaman tersebut darinya. 

وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ 

”..dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”. (QS Al Falaq : 5)

Itulah orang-orang yang hasad. Orang-orang yang memiliki hati iri dan dengki yang tidak ingin melihat orang lain mendapatkan nikmatnya. Hasad ini ada salah satu sifat hati yang paling berbahaya karena sang pemilik sifat ini dapat melakukan sesuatu dengan cara apapun untuk memenuhi keinginannya..Naudzubillah, semoga kita terhindar dari orang-orang yang hasad, pun dijauhkan sifat hasad dari hati kita..

Here they are, gangguan-gangguan eksternal yang dapat membahayakan kita. Dan sekali lagi, hanya Allah lah yang mampu melindungi kita dari segala kejahatan diatas..

Allahua’lam.