Web Counters
Muhajirin Anshor

indrikhairatip:

"Hati Untuk Ammar"

Ammar, bayi berusia 5 bulan, putra seorang Guru SD, terkena Atresia Bilier, penyakit kerusakan hati langka yang dialami oleh 1 dari 10.000 anak.

Kulit dan mata Ammar menguning, kotorannya memutih, perutnya membengkak.

Rp. 900 Juta harus terkumpul di Oktober 2014 untuk biaya operasi transplantasi hati.

Ayo kita bersama-sama kembalikan keceriaan Ammar.

Pengumpulan dana transplantasi hati bisa disalurkan ke:
Muamalat 3020013555 a.n. Risma Siti Yusniasari

Konfirmasi penyaluran dana:
Sita Elanda +6287788685368


“Alloh selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut saling menolong sesamanya”

Salam Hangat,
Komunitas Muhajirin Anshar

More Info:
http://muhajirinanshor.tumblr.com
http://hatiuntukammar.com
http://facebook.com/hatiuntukammar
@MuhajirinAnshor

QuestionAsslm, boleh tanya seputar fidyah? Kalau ada orang tua kita yang tidak mampu untuk berpuasa di bulan Ramadhan dan tidak sanggup untuk meng-qada nya di hari lain serta tidak mampu membayar fidyah, apakah boleh fidyah tersebut dibayarkan oleh anaknya? jzkl :) Answer

wa’alaikumsalam 

fidayh boleh dibayarkan siapapun, asalkan memang diniatkan untuk fidyah atas nama orangtersebut (orangtuanya)

demikian

salam, banu

Anonymous Asked
Questionاَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Admin saya ada sdikit masalah, saya udah bilang munafik ke org dkt tpi saya udah minta maaf ,smpi skrg blm di maafkan, kira2 apa yg harus aku lakukan
Answer

wa’alaikumsalam warohmatulloh wabarokatuh

tugas kita meminta maaf saja dengan ketulusan

kalau dia belum memafkan maka itu urusan dia dengan Alloh

tapi akan baik jika dalam do’a, kita meminta ke Alloh agar Alloh membuka hatinya untuk memaafkan kita

salam, banu

Anonymous Asked
QuestionAssalamualaikum wr.wb. Bagaimana hukum bekerja di bank? Yang saya bingungkan disini ialah Pendapatan utama dari sektor perbankan konvensional jelas2 dari riba namun ada juga yang bersumber dari jasa perbankan selain riba yang bersifat halal. Disitu terjadi percampuran harta antara yang haram dan halal untuk menggaji pegawainya. Sedangkan seoramg pegawai bank yang ingin mengetahui seberapa besar yang haram atau halal tidak mudah karena secara otomatis tercampur. Jadi mohon penjelasannya. Answer

wa’alaikumsalam wr wb

jawabannya ada MA1, cek kesana ya

intinya :

pada dasarnya haram, tapi ada beberapa kondisi yang membolehkan, yakni darurat, nasyrul fikroh dan mencari ilmu..

salam, banu

Anonymous Asked
Questionsalat fajar dilakukan setelah shalat subuh apa sebelum? Answer

jawaban ringkas saja ya..

sholat sunnah fajar adalah sama dengan sholat sunnah qobliyah subuh, jadi setelah adzan subuh..

kalau belum masuk waktu subuh maka sholat sunnah mutlak biasa, atau bisa diniatkan tahajjud

salam MA,

banu (founder MA)

Pembahasan hari ini berkaitan dengan pembahasan minggu lalu tentang kisah Bu Khodijah, seorang muallaf.

Benang merah alasan orang masuk Islam:

  1. Merasa ada kekuatan ghaib yang mendorongnya kepada kebenaran Islam.

  2. Semua ranah psikologis bekerja ke arah kebenaran Islam. Kognitif berupa rasionalitas. Afektif dalam bentuk simpati dan keindahan. Psikomotor berupa perjalanan atau pengembaraan fisik. Spiritual yang berbentuk interaksi yang ghaib di luar kekuasaan manusia.

Kalau hanya ranah kognitif saja, biasanya belum dapet hidayah. Contohnya Karen Amstrong. Dia secara kognitif mengagumi Islam, tapi belum jadi muslimah.

Kalau hanya ranah afektif saja, belum cukup. Misal para antropolog yang sangat akrab dengan masyarakat muslim dan mencintai mereka, tapi belum mau masuk Islam.

Jadi, untuk jadi muslim harus seluruhnya bekerja dan mengarah kepada kebenaran Islam. Ingat: Islam itu kaffah, tidak parsial.

Psikologi Islam juga demikian. Kalau masih parsiap berarti belum Islam. Contoh: banyak komentar terhadap para koruptor. “Orang beragama kok bisa korupsi ?”; “Orang Islam ternyata korupsi juga”; “Dia itu kurang beragama gimana ? Rajin sholat, sudah haji, rajin ikut ta’lim. Tapi kok maksiat juga ?”

Islam itu bukan sholat, haji, puasa saja. Islam itu kaffah. Rasulullah diutus untuk memperbaiki akhlak manusia, bukan berarti “yang penting perilaku baik, iman gak penting !”. Islam itu landasannya iman, senjatanya ilmu, prakteknya amal sholeh, kepribadiannya akhlakul karimah, jiwanya  taqwa. Tidak bisa hanya sebagian saja.

Tauhid itu tidak bisa ditawar walaupun sedikit. Psikologi Islam harus seluruhnya Islam tak bisa dicampur aduk dengan yang bukan Islam. Paradigma harus tauhid, textbook utamanya harus qur’an dan hadits, aplikasinya tak boleh melanggar syari’at, niatnya harus tulus ikhlas.

Untuk itu, marilah kita introspeksi diri. Masih adakah hal-hal yang tidak Islami dalam diri kita ?

Salah satu yang tidak Islami itu adalah persepsi bahwa kita punya “kuasa” atas hidup kita, padahal “tidak ada daya dan upaya selain dari Allah.” Jadi tidak ada hidayah kalau Allah tidak menghendaki.

Lalu, apakah kita tak boleh berusaha ? Salah satu usaha kita yang sah adalah memohon Ridho Allah baik melalui bekerja maupun berdo’a. Beramal dan bersyukur hanya demi Ridho Allah.

Semoga Allah membimbing kita dan menganugerahkan hidayah-Nya pada kita. Dengan begitu benar kata Bu Khodijah, bahwa ummat Islam tak perlu takut dengan pengaruh asing. Orang Islam yang kaffah tak bisa ditembuh oleh pengaruh apapun itu. Ketika dapat musibah, dia yakin bahwa musibah itu terjadi karena izin Allah. Ketika dapat kenikmatan dia juga bersyukur pada Allah, bukan berhutang budi pada kebaikan orang lain. Orang Islam yang kaffah juga tak bisa dijebak dengan hutang budi.

Tanya Jawab:

  1. Kalau ada orang yang sudah rajin sholat, tapi masih maksiat, apa penyebabnya ?

Jawab: Sholat belum benar. “Celakalah orang yang sholat. Yaitu orang yang lalai dengan sholatnya (atau sholat karena riya’)”. Itu sholat yang belum kaffah. Perhatikan: rukun sholat dimulai dari niat, bersuci, tuma’ninah, bacaan yang benar, hati yang bersih, sabar, khusyu’. Semua ranah psikologinya harus sholat: kognitif, afektif, psikomotor, spiritualitasnya.

Pak Bagus membuka dengan memaparkan review materi sebelumnya karena ada beberapa peserta baru yang masuk grup.

  1. Manusia bukan “sekedar” diciptakan dari tanah, tapi juga dilengkapi dengan ruh.

  2. Allah membekali manusia dengan pendengaran, penglihatan, dan hati supaya manusia bersyukur.

  3. Namun manusia dikaruniai kebebasan untuk memilih, dan kebanyakan manusia memilih untuk tidak bersyukur.

Sebenarnya sampai di sini kita sudah mendapatkan kunci untuk kebahagiaan dan solusi dari semua masalah kehidupan: bersyukur.

Sayangnya tidak semua orang mampu untuk bersyukur. Bersyukur akan sangat mudah jika kita sedang senang, tapi bagaimana caranya bersyukur kalau hidup kita penuh derita ? Rejeki susah, jodoh entah ke mana, keluarga pecah belah, badan sakit-sakitan. Bagaimana mau bersyukur ?

Dibukalah sesi quiz lagi. Ada jawaban: coba melihat kesulitan sebagai ujian dari Allah, dan bersabar.

Sabar Pintu Syukur

Jawaban yang tepat adalah “bersabar”. Minta pertolongan Allah dengan sholat dan sabar. Menurut perspektif ini sabar itu mengarahkan kita pada syukur. Kalau kita gagal bersabar, maka kita tak mampu bersyukur. Contoh: dalam sholat. Sholat adalah latihan kesabaran. Wudhu, menunggu imam, tuma’ninah, dan rutin. Sholat tak boleh tergesa-gesa. Bahkan ketika telat berjama’ah tidak boleh lari-lari. Sholat itu latihan sabar.

Orang yang menjaga sholatnya dia mampu bersabar. Orang yang mampu bersabar akan siap untuk bersyukur, jadi jalan untuk syukur itu tidak mudah: butuh komitmen. Oleh karena itu, sholat adalah tiang agama. Temboknya sabar dan atapnya syukur. Itu metaforisnya kurang lebih begitu. Kalau tiang runtuh, runtuhlah semuanya, tapi tiang saja belum lengkap. Sholat wajib itu syarat minimal bagi kebahagiaan hidup sejati, dan itu adalah pilihan Anda.

Semua masalah psikologis adalah dampak dari ketidakbersyukuran.

  1. Kalau sudah sholat tapi masih muncul masalah psikologis, misal sering cemas, itu gimana ?

Jawab: Itu berarti sholatnya belum ikhlas. Ikhlas itu percaya penuh pada Allah. Tidak berharap kecuali pada Allah. Cemas itu muncul karena kita berharap pada selain Allah, atau berburuk sangka pada Allah.

  1. Ada kasus. Permasalahan psikologis terkait ketidakbersyukuran. Yang menyebabkan selalu histeris tanpa henti. Selalu coba ditenangkan dengan sholat dan tilawah, tapi hanya berdampak tak lama. Tengah malam kembali histeris, dan masih berulang hingga kini. Apakah ini juga karena belum ikhlas ibadah ? Dan berulang tiap hari.

Jawab: Ikhlas itu harus masuk ke hati. Sholat kalau baru pada tataran fisik dampaknya sementara. Histeria juga perlu digali sebabnya karena penderita butuh bantuan mengatasi masalah psikologisnya. Kemungkinan banyak sakit hati yang belum dimaafkan.

  1. Bagaimana dengan anggapan bahwa seseorang harus menaruh harapan pada diri sendiri dan pada Allah. Menaruh harapan pada diri sendiri menurutnya penting karena hal itulah yang menggerakkan diri untuk berusaha. Apakah hal ini salah ?

Jawab: jangan disejajarkan dengan mengandalkan Allah. Diri ini hanyalah sarana/kendaraan untuk mengandalkan Allah.

  1. Kalau secara ilmu, syukur, sabar, khusyu’, dan suasana batin yang positif lainnya itu ada di mana ya ? Emosi, jiwa, hati, atau apa ya menurut ilmu psikologi Barat tentunya.

Jawab: Psikologi Barat itu parsial dan segmental, sementara Psikologi Islam itu holistik dan integratif. Pola pikir yang kita pelajari dari ilmu Barat selalu berhenti pada analisis. “Terima bongkar gak terima beres”. Contoh: dalam diskusi psikologi positif diperdebatkan “hope” itu kognitif (ranah pikiran) atau afektif (emosi). Sampai sekarang belum selesai debatnya, paling akhirnya akan timbul dua aliran: hope kognitif vs hope afektif. Sementara itu Psikologi Islam sejak dulu sudah aplikatif. Berharaplah pada Allah makan hidupmu tak akan pernah sia-sia.

Pertanyaan lanjutan: Apa alasan yang mendasari kalau hope itu ada di ranah kognitif ya ?

Jawab: Yang kognitif itu menyatakan bahwa hope itu perkiraan tentang masa depan, terkait dengan probability, opportunity, chance. Kita terbiasa dengan pola piker reduksionistik yang sebenarnya kontra produktif. Dalam Islam ilmu itu tak berguna tanpa amal, maka ilmu tidak untuk diperdebatkan tetapi untuk dijadikan pencerahan bagi perbaikan amal.

Masalah Ilmu Barat

Analisis ilimuwan Barat tentang karya Ibn Khaldun. Katanya tulisan Ibn Khaldun redundant dan berputar-putar. Lalu ada yang heran “Ibn Khaldun itu di satu sisi sangat rasionil tetapi kok juga spiritual ?”

Orang Barat merasa harus mempertentangkan rasionalitas dan spiritualitas. Kalau Islam semuanya jadi satu secara integral. Itu sebabnya banyak masalah di IAIN karena mempelajari Islam dengan perspektif Barat.

Rasulullah pernah mengingatkan (marah pada) para sahabat yang berdebat tentang ayat Al-qur’an. Orang Islam kalau dengar Qur’an seharusnya sami’na wa atha’na. Ilmu berperan dalam meningkatkan pemahaman (pendengaran) tapi tak mengubah ketaatan. Orang berilmu sami’na nya lebih bermutu sehingga atha’na nya lebih kuat.

Di masyarakat Barat, ilmunya menyesatkan. Sebagian besar psikolog menjadi kafir. Semoga Psikologi Islam dapat membentengi para psikolog di Indonesia supaya tetap sami’na wa atha’na.

Aamiin.

Diskusi dimulai pada pukul 20.00, dan dibuka dengan quiz.

Allah memberikan pendengaran, penglihatan, dan hati supaya kita bersyukur. Namun, Al-qur’an juga mengatakan bahwa kebanyakan manusia tidak bersyukur.

Mengapa? Ini masalah psikologis, bukan masalah fiqh.

Ini quiz. Banyak sekali jawaban, tapi tidak ada yang tepat: manusia lupa, tidak pernah puas, punya kecenderungan lalai terhadap yang Allah beri, sombong, adanya wahn.

Pak Bagus mengulangi pertanyaan: Allah sudah memberikan bekal pendengaran, penglihatan, dan hati supaya bersyukur. Tetapi manusia kebanyakan tidak bersyukur. Ini fenomena apa ?

Jawaban peserta: kufur nikmat.

Pak Bagus: Artinya apa ? hati kotor dan sakit itu akibat. Sebabnya apa ?

Peserta: tidak menggunakan indera, akal, dan hati untu mengenal Allah

Pak Bagus: kok manusia bisa tidak menggunakan ? artinya apa ? Padahal Allah yang mendesain pendengaran penglihatan dan hati untuk bersyukur.

Peserta: tidak memanfaatkan bekal yang sudah diberikan Allah jadi tidak bersyukur; tidak menyadari bahwa indera, akal, hati, adalah nikmat Allah.

Pak Bagus: Kok bisa ? artinya apa ?

Ternyata kuis ini dibuat supaya peserta juga berpikir.

Pak Bagus memancing jawaban dengan bertanya lagi: “Tidak menggunakan” atau “menggunakan” itu apa ? artinya ? “membuka” atau “menutup” itu artinya apa ? bisa “mengakui” atau “mengingkari” itu artinya apa ?

Manusia bisa MEMILIH

Mungkin karena sudah terlalu lama, akhirnya Pak Bagus member jawaban: MEMILIH ! Manusia BISA MEMILIH. Syukur itu pilihan. Kufur itu pilihan. Dalam kondisi apapun manusia bisa memilih.

Allah memberi pilihan pada manusia. Allah tidak memaksa manusia untuk bersyukur. Manusia diberi kebebasan untuk memilih. Dalam kebebasannya manusia dibekali dengan pendengaran, penglihatan, dan hati untuk memilih. Tidak ada paksaan dalam agama.

Konsekuensi dari pilihan itu adalah tanggung jawab. Sesungguhnya Allah tidak pernah menganiaya hambanya, tapi mereka menganiaya diri sendiri.

Tidak ada manusia yang menanggung dosa orang lain. Setiap insane bertanggung jawab pada pilihannya sendiri. Kita tidak bisa menyalahkan orang lain karena kita bebas memilih. Tidak harus mengikuti orang lain. Kalau kita memilih untuk ikut-ikutan pada orang yang salah, kesalahan tetap ditanggung sendiri.

Kebebasan untuk memilik adalah fitrah manusia. Ini yang pertama kali harus kita sadari. Menurut Psikologi Islam, manusia harus sadar. Ke dua, kita harus sadar bahwa kita memilih untuk bersyukur. Niscaya kita akan sehat dan bahagia.

Jadi, tiap pilihan pasti ada konsekuensi.

Sesi tanya jawab

  1. Peserta: “Memilih untuk bersyukur atau kufur”. Apa penyebab manusia akhirnya memilih untuk kufur atau syukur ?

Jawaban: syukur adalah obat. Bersyukur itu membuat hati kita sehat. Imam Al Ghazali mengatakan makanan hati adalah syukur. Ketika hati jarang “makan”, maka dia akan sakit. Secara psikologis, bersyukur atau kufur adalah sebab utama. Ketika tidak bersyukur, kita akan mempertanyakan, meragukan, mengabaikan, dst. Bersyukur itu membuka rahmat Allah. Rahmat Allah itu tak terhingga.

  1. Secara tahap perkembangan, kapan kita bisa mulai menyadari ini Pak ? Apa dalam tahap berpikir abstrak seperti kata Piaget ?

Jawaban: Secara psikologis perkembangan dan psikologis. Kebebasan memilih juga berkembang. Anak-anak kecil sudah memiliki kebebasan. Lain kali topik perkembangan anak dan parenting akan dibahas

  1. Kenapa ada orang yang salah memilih ?

Jawaban: Salah satu sebab kesalahan memilih adalah kurangnya ilmu. Itu sebabnya menuntuk ilmu itu wajib hukumnya. sebab lain adalah 3 dosa awal: sombong, tamak, iri. Ketiga dosa itu lebih berbahaya. Ini juga pilihan.

Tips Menjaga Hati

Selain manusia, makhluk yang juga dikaruniai kebebasan adalah jin. Malaikat tidak memiliki kebebasan. Salah memilih kalau tidak sadar bisa dikoreksi, tapi kalau terlanjur memilih untuk kufur akan sangat berbahaya. Obatnya secara teoritis mudah: bersyukur. Itu yang terjadi pada orang yang bertaubat. Itu sebabnya orang yang bertaubat akan berubah kepribadian secara tiba-tiba. Dalam prakteknya tak semudah itu. Oleh karena itu, jagalah hati untuk selalu bersyukur. Salah satu caranya, atribusikan setiap hal kecil dalam hidup kita pada kehendak Allah (berpikir bahwa semua yang terjadi adalah karena kehendak Allah). Selalu berharap pada Ridho Allah dalam setiap perbuatan kita. Jangan pernah mempertanyakan kasih sayang Allah. Jangan pernah menggugat keadilan Allah. Jangan pernah ragu pada ampunan Allah. Dan jangan pernah putus asa dengan Rahmat Allah.

Selalu berdo’a kepada Allah untuk setiap hal kecil. Mengadulah pada Allah setiap timbul kecemasan dalam hati. Istighfar setiap saat karena walaupun kita memiliki kebebasan, manusia ini sesungguhnya sangat rapuh. Hati mudah berbolak-balik. Dalam diri kita sendiri ada potensi untuk melenceng, ditambah dengan godaan syaitan yang datang dari segala penjuru.

Sesi Tanya Jawab

Penyakit hati berhubungan dengan penyakit mental ?

Jawab:  mental itu otak. Psikologi Barat mengira semuanya ada di otak. Tidak bisa membedakan otak dengan hati.

Mari mulai pagi ini dengan bersyukur kepada Tuhan kita dengan lisan kita dan seluruh perasaan kita.

Ada orang merasa miskin ketika tabungannya dibawah 1 Milyar, tapi ada orang yang merasa kaya hanya karena tabungannya melewati angka 10 juta.

Ada orang yang masih merasa susah, padahal gajinya di atas 20 juta, tapi ada yang merasa bahagia hanya karena gajinya naik 45 ribu saja.

Ada orang yang merasa bajunya itu-itu saja, padahal koleksi baju di lemarinya lebih dari 70, sementara ada yg merasa ingin berbagi baju dengan yang lain, padahal koleksinya hanya 8 baju.

Ada orang yang tidak berbagi karena merasa semua kekayaannya adalah jerih payahnya, sementara ada tukang becak yang mem-free-kan ongkos setiap Jum’at.

Ada orang yang tidak pernah merasa cukup dengan satu rumah tinggal dan satu lagi rumah untuk istirahat akhir pekan, sementara ada yang bahagia dan merasa nyaman saat mampu membayar kontrakannya bulan itu.

Ada orang resah ketika nilai harga saham yang dia pegang turun 1%, sementara ada yang bahagia ketika yang didapat hari ini cukup untuk dagang besok.

Ada orang bermobil seharga ratusan juta berqurban kambing seharga 2 juta, ada orang berhonda Supra X berqurban kambing 3,6 juta..

Sebenarnya tidak harus selalu dipertentangkan, karena ada pula orang mampu yang pandai bersyukur dan orang miskin yang kufur nikmat.

#Syukur adalah pekerjaan hati, dilanjutan lisan dan amalan pembuktian. Semua orang bisa bersyukur, bisa pula kufur nikmat, tapi alangkah indahnya jika si kaya pandai bersyukur dan si miskin juga pandai bersyukur dengan caranya masing-masing.

Semua agama pasti mengajarkan semua pemeluknya untuk selalu bersyukur kepada Tuhan dan semua agama membenci kekikiran, saya yakin itu.

Kata Gandi, dunia ini cukup untuk semua orang, tapi tak cukup untuk satu orang rakus. Itu semua tentang syukur dan berbagi.

Dalam Islam diajarkan do’a,” Allohumma a-inna ‘ala dzikrika, wa syukrika wa husni ‘ibadatika”, dibaca setiap selesai sholat, 5 kali sehari seharusnya. Artinya, “Ya Allah bantulah aku dalam mengingat-Mu, bantulah untuk mampu bersyukur atas semua nikmat-Mu, dan bantu dalam memperbaiki ibadah kami kepada-Mu”

Selamat menjadi hamba yang pandai bersyukur, berbahagialah saat mampu membahagiakan orang lain.

-Pak Banu Muhammad-

Sedikit menyinggung sejarah psikologi. Pada awalnya, psikologi adalah ilmu tentang jiwa karena psyche berarti “jiwa”, namun sayangnya definisi tersebut berubah seiring waktu. Perubahan tersebut dikarenakan adanya sekularisasi ilmu pengetahuan. Paham sekuler memiliki ciri mengabaikan aspek metafisik atau ghoib, sehingga salah satu konsekuensinya adalah hanya membahas hal-hal yang dapat diindera dan diukur.

Orang yang sekuler pun mengingkari Tuhan, tidak melibatkannya dalam kehidupan sehari-hari. Padahal fitrahnya manusia itu merindukan Tuhan. Itulah sebabnya budaya sekuler membuat penganutnya asing dengan dirinya sendiri. Alhasil psikologi tidak membuat hati tenteram, tapi justru menambah kegelisahan.

Asumsi sekuler menyebabkan adanya reduksi pada ilmu psikologi Hal itu juga berdampak pada definisi psikologi, yaitu yang pada awalnya ilmu tentang jiwa berubah menjadi behavioral science atau ilmu tentang tingkah laku. Seiring dengan perubahan era definisi psikologi juga mengalami perubahan. Ketika teknologi berkembang, psikologi memasukkan mental process dalam ranah pembahasannya.

Psikologi sekuler bagaikan ilmu yang meraba-raba dalam kegelapan. Penggambarannya seperti dalam Al-qur’an surat Al-Baqarah ayat 17: perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya yang menyinari mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.

Hanya iman yang bisa menerangi kegelapan

Psikologi Islam adalah ilmu tentang manusia seutuhnya karena di dalamnya ada aspek jiwa yang dibahas, di samping tingkah laku dan proses mental. Sebaliknya, psikologi sekuler bersifat parsial karena mengabaikan aspek jiwa, padahal jiwa adalah aspek penting dalam Islam.

Ibarat LEGO, psikologi Barat adalah partsnya. Psikologi Islam adalah konstruksi yang utuh. Tidak semua parts diperlukan.

Ibarat pasir emas, maka psikologi Islam adalah emasnya.